Mendobrak Tabu
Oleh: Panji Maulana
“BANCI!” Terlontar kata tersebut dari mulut manusia kepada manusia lain. Banci, bencong, jantina, waria dan sebutan serupa lainnya sudah lumrah dipakai masyarakat untuk menyebut manusia yang terlahir berpenis namun bertingkah laku bak wanita. Tak hanya dipakai untuk melabeli golongan tersebut, istilah ini juga kerap digunakan sebagai pengganti dari kata “pengecut”. Jika pengecut adalah istilah yang merujuk kepada siapa saja yang takut menghadapi sesuatu, berbeda dengan “banci” yang hanya disematkan kepada pihak laki-laki yang berperilaku serupa. Hal ini secara tidak langsung menyiratkan bahwa sebagai seorang lelaki harus selalu berani dalam menghadapi apapun sedangkan sifat penakut itu dimiliki oleh para perempuan sebagai makhluk yang lemah. Doktrin kuno ini masih banyak melekat dalam masyarakat Indonesia khususnya di daerah yang belum tersentuh pengetahuan tentang gender. Dalam psikologi, sifat maskulin dan feminim tidak selalu terikat maupun bertentangan, baik laki-laki dan perempuan dapat menjadi maskulin dan feminim.
Orang yang memiliki sifat dan tingkah laku yang berbeda dengan seks atau kelaminnya disebut transgender atau transseksual. Di Indonesia sendiri transgender masih berkonotasi negatif, dilihat dari fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam dan hal tersebut (transgender/transeksual) dianggap sebagai ketidakpuasan atas apa yang diberikan oleh Tuhannya. Terlepas dari agamapun tidak sedikit orang yang memandang rendah golongan ini. Bahkan sampai mengucilkan. Karena pandangan negatif ini, banyak orang yang sebenarnya memiliki orientasi gender yang berseberangan dengan dirinya tapi karena pandangan masyarakat yang seperti itu lantas menyembunyikan hal ini dan merahasiakannya sendiri. Imbasnya, orang ini tenggelam dalam kedilemaan, merasa dirinya terpenjara dalam tubuh yang salah dan yang lebih miris lagi adalah tidak ada yang bisa disalahkan. Hal ini merupakan borok dari kata kebebasan di negeri ini.
Dengan kondisi seperti ini para transgender seakan-akan menjadi “korban” dalam hidupnya. Tapi yang sebenarnya menjadi korban adalah kita, manusia yang belum memahami apa arti dari hak, manusia yang belum bisa menerima apa itu keberagaman, dan manusia yang belum mau menghadapi perbedaan. Dengan sifat-sifat tersebut kita menjadi korban dari kebodohan karena seharusnya perbedaan mereka tidak untuk dicemooh dan direndahkan. Tidak berarti dengan perbedaan mereka kita yang “normal” menjadi lebih baik.
Adalah Dedi Yuliardi Ashadi seorang Indonesia yang sedari muda sudah merasakan adanya kesalahan dalam dirinya, tak seperti bocah laki-laki lain seusianya yang lebih suka bermain bola sepak maupun olahraga lain, Dedi kecil lebih suka menghabiskan waktu dengan teman perempuannya dan bermain jenis permainan perempuan seperti bola beklen, congklak, dan karet gelang. Baru berumur satu tahun Dedi sudah menjadi yatim piatu, yang akhirnya dirawat oleh neneknya dengan penuh kasih sayang. Perjalanan hidupnya sangat lah berat, ditambah dengan “perbedaan” yang dimilikinya menambah beban di hidupnya, Mulai dari sembunyi-sembunyi memakai pakaian wanita, hingga mencintai teman lelakinya dalam diam, semua dilakukan secara rahasia karena tidak ingin diadili oleh standar-standar masyarakat kala itu. Lelah karena merasa selalu dibelenggu oleh perbedaannya, disertai dengan tekad yang bulat dan haus akan kebebasan, Dedi akhirnya mendobrak batasan-batasan yang ada di masyarakat tentang ketabuan atas perbedaan yang dimilikinya. Dedi berjuang dari nol hingga ia berhasil seperti sekarang, bahkan keberhasilannya melebihi kita orang yang merasa “normal”.
Dalam perjalanannya Dedi bermetamorfosis menjadi Dorce Gamalama. Ya, Dorce adalah Dedi kecil yang akhirnya menemukan kemerdekaan di hidupnya. Dorce saat ini dikenal dengan tokoh yang sangat baik dan berhati mulia, Beliau mau mengadopsi 4 anak untuk dirawat dan dilindungi bahkan memiliki yayasan yang menyantuni sekitar 1.600 anak saat ini. Bayangkan jika Dorce tidak berani melawan hinaan-hinaan yang dulu ia diterima, akan banyak kebaikan yang tidak terjadi pada hari ini, khususnya kepada anak-anak asuhnya.
Dengan ini terbukti bahwa seharusnya mereka yang berbeda tidak dikucilkan dan tidak dimusuhi, karena perbedaan bukanlah kejahatan dan kita juga tidak bisa memilih ingin dilahirkan seperti apa dan bagaimana, laki-laki atau perempuan. Karena perbedaan tidak akan melenyapkan kebaikan.
“BANCI!” Terlontar kata tersebut dari mulut manusia kepada manusia lain. Banci, bencong, jantina, waria dan sebutan serupa lainnya sudah lumrah dipakai masyarakat untuk menyebut manusia yang terlahir berpenis namun bertingkah laku bak wanita. Tak hanya dipakai untuk melabeli golongan tersebut, istilah ini juga kerap digunakan sebagai pengganti dari kata “pengecut”. Jika pengecut adalah istilah yang merujuk kepada siapa saja yang takut menghadapi sesuatu, berbeda dengan “banci” yang hanya disematkan kepada pihak laki-laki yang berperilaku serupa. Hal ini secara tidak langsung menyiratkan bahwa sebagai seorang lelaki harus selalu berani dalam menghadapi apapun sedangkan sifat penakut itu dimiliki oleh para perempuan sebagai makhluk yang lemah. Doktrin kuno ini masih banyak melekat dalam masyarakat Indonesia khususnya di daerah yang belum tersentuh pengetahuan tentang gender. Dalam psikologi, sifat maskulin dan feminim tidak selalu terikat maupun bertentangan, baik laki-laki dan perempuan dapat menjadi maskulin dan feminim.
Orang yang memiliki sifat dan tingkah laku yang berbeda dengan seks atau kelaminnya disebut transgender atau transseksual. Di Indonesia sendiri transgender masih berkonotasi negatif, dilihat dari fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam dan hal tersebut (transgender/transeksual) dianggap sebagai ketidakpuasan atas apa yang diberikan oleh Tuhannya. Terlepas dari agamapun tidak sedikit orang yang memandang rendah golongan ini. Bahkan sampai mengucilkan. Karena pandangan negatif ini, banyak orang yang sebenarnya memiliki orientasi gender yang berseberangan dengan dirinya tapi karena pandangan masyarakat yang seperti itu lantas menyembunyikan hal ini dan merahasiakannya sendiri. Imbasnya, orang ini tenggelam dalam kedilemaan, merasa dirinya terpenjara dalam tubuh yang salah dan yang lebih miris lagi adalah tidak ada yang bisa disalahkan. Hal ini merupakan borok dari kata kebebasan di negeri ini.
Dengan kondisi seperti ini para transgender seakan-akan menjadi “korban” dalam hidupnya. Tapi yang sebenarnya menjadi korban adalah kita, manusia yang belum memahami apa arti dari hak, manusia yang belum bisa menerima apa itu keberagaman, dan manusia yang belum mau menghadapi perbedaan. Dengan sifat-sifat tersebut kita menjadi korban dari kebodohan karena seharusnya perbedaan mereka tidak untuk dicemooh dan direndahkan. Tidak berarti dengan perbedaan mereka kita yang “normal” menjadi lebih baik.
Adalah Dedi Yuliardi Ashadi seorang Indonesia yang sedari muda sudah merasakan adanya kesalahan dalam dirinya, tak seperti bocah laki-laki lain seusianya yang lebih suka bermain bola sepak maupun olahraga lain, Dedi kecil lebih suka menghabiskan waktu dengan teman perempuannya dan bermain jenis permainan perempuan seperti bola beklen, congklak, dan karet gelang. Baru berumur satu tahun Dedi sudah menjadi yatim piatu, yang akhirnya dirawat oleh neneknya dengan penuh kasih sayang. Perjalanan hidupnya sangat lah berat, ditambah dengan “perbedaan” yang dimilikinya menambah beban di hidupnya, Mulai dari sembunyi-sembunyi memakai pakaian wanita, hingga mencintai teman lelakinya dalam diam, semua dilakukan secara rahasia karena tidak ingin diadili oleh standar-standar masyarakat kala itu. Lelah karena merasa selalu dibelenggu oleh perbedaannya, disertai dengan tekad yang bulat dan haus akan kebebasan, Dedi akhirnya mendobrak batasan-batasan yang ada di masyarakat tentang ketabuan atas perbedaan yang dimilikinya. Dedi berjuang dari nol hingga ia berhasil seperti sekarang, bahkan keberhasilannya melebihi kita orang yang merasa “normal”.
Dalam perjalanannya Dedi bermetamorfosis menjadi Dorce Gamalama. Ya, Dorce adalah Dedi kecil yang akhirnya menemukan kemerdekaan di hidupnya. Dorce saat ini dikenal dengan tokoh yang sangat baik dan berhati mulia, Beliau mau mengadopsi 4 anak untuk dirawat dan dilindungi bahkan memiliki yayasan yang menyantuni sekitar 1.600 anak saat ini. Bayangkan jika Dorce tidak berani melawan hinaan-hinaan yang dulu ia diterima, akan banyak kebaikan yang tidak terjadi pada hari ini, khususnya kepada anak-anak asuhnya.
Dengan ini terbukti bahwa seharusnya mereka yang berbeda tidak dikucilkan dan tidak dimusuhi, karena perbedaan bukanlah kejahatan dan kita juga tidak bisa memilih ingin dilahirkan seperti apa dan bagaimana, laki-laki atau perempuan. Karena perbedaan tidak akan melenyapkan kebaikan.

Comments
Post a Comment